•April 6, 2010 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Lagu sungai terdengar seperti rintihan orang kelaparan
jiwa manusia hanyut di bawanya serta ke arah muara
bersama sesampah kota. Sungai telah murka
Ada juga yang masih larut dalam gerimis
percaya jika air mata dapat obati luka
lalu menghanyutkan diri ke dalam sungai berair hitam
sebelum tiba di laut ia telah membusuk
Di kampungku sungai tidak lagi bisa di pakai berenang
Di kampungku sungai telah menjadi tempat orang bunuh diri
dan membuang bayi.
cianjur 2010
Ditulis dalam Karya
Tag: puisi
•April 6, 2010 •
Tinggalkan sebuah Komentar
“Burung, kenapa kau punya sayap?” Tanya Seorang anak laki-laki pada seekor burung layang-layang yang tengah hinggap di dedahan. “Aku ingin punya sayap, seperti dirimu, agar dapat mengangkasa jauh seberangi samudera. Burung lelayang yang baik, kau bisa bercerita padaku, kenapa Tuhan memberimu sepasang sayap yang indah sedangkan aku tidak, aku juga ingin terbang bebas seperti halnya engkau, tidak melulu terpenjara dalam sangkar tanpa rupa, tanpa ibu..Burung, aku ingin punya sayap..” Serunya, mungkin karena kaget atau merasa terganggu, burung layang-layang itu tiba-tiba mengepakan sayapnya, pergi meninggalkan anak laki-laki yang masih diliputi tanya.
Pada malam hari, saat anak laki-laki itu tengah tidur lelap sekali, seseorang menjenguknya, di letakannya sepasang sayap berwarna cokelat di atas tubuhnya, lalu ia pergi melewati jendela yang sedikit terbuka.
Di bawahnya ada secarik pesan indah terbingkai.
” Hadiah kecil dari ibu, sepasang sayap cokelat untuk anakku yang sebentar lagi berulang tahun, maaf ibu tidak bisa hadir memberimu ucapan selamat, salam sayang, ibu di atas awan.” []
Ditulis dalam Karya
Tag: puisi
•April 6, 2010 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Tidak pernah ada percakapan antara kita, pak
kata – kata seolah mati, kita sama-sama bisu
Barangkali aku yang dungu
tidak tahu balas budi
Lagi pula aku tidak ingin mengikuti jejakmu
juga jejak kakakku, juga jejak kakekku
Ku bilang begini sama pacarku
” Entah kena kutuk apa keluargaku, kok semua laki-lakinya punya istri lebih dari satu kali, tinggalkan anak-anaknya dalam sepi dan nganga luka. Kamu masih mau jadi istriku?”
Bapak,
Ah bapak…..
Ditulis dalam Karya
Tag: puisi
•April 6, 2010 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Katamu aku harus pulang
karena selembar daun telah renta dan kusam
mungkin juga perih, bosan tinggal di kampung halaman
yang kini terasa sangat jauh untuk di tempuh
suara dari sebuah tepi memanggilku untuk kembali
di malam hari, saat aku tidak dapat menutup mata, sehabis lelah berharap pada cuaca
dan lupa untuk mengumpulkan remah mimpi yang berserak di genangan hujan
Aku sedang tidak ingin mencintai siapa-siapa
kamarku kosong, rumahku hitam, hening
suaramu kian keras memanggil
” Kau telah begitu setia pada tempat busuk itu, tidak ingin kembalikah,
temui lagi masa silam yang telah kau buang,
sebelum daun jiwa menjelma putih kamboja.”
sukabumi in February 2010
Ditulis dalam Karya
Tag: puisi
•April 6, 2010 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Pingkan akan kembali mengunjungi masa kecilnya pagi ini. Tidak ada bekal uang atau pakaian
hanya di temani beberapa tangkai bunga kecil yang nanti akan ia berikan pada pohon mangga
yang daun-daunnya berwarna cokelat pekat, mengeluarkan aroma batu sungai,
aroma yang sangat ingin ia hirup untuk memompa jantungnya agar tetap hidup.
Pingkan pun melangkahkan kakinya melewati sebuah pintu yang di jaga ketat oleh beberapa raksasa biru bermata bola-bola merah sunyi, yang kapan saja bisa melahap tubuh mungilnya, Pingkan menanggalkan alas kakinya agar bumi yang ia injak bisa lunak dan empuk. Pingkan tahu, untuk sampai ke masa kecilnya, ia harus suci dari apa pun yang menempel dalam jiwa raganya.
Demi pohon mangga dan masa kecil yang indah, maka tanggallah sebiji matanya, gigi, hidung, paru-paru, kecemasannya, keragu-raguannya
Pingkan tahu ia tidak punya apa-apa lagi saat ini, hanya perasaannya pada Pohon Mangga yang terpelihara senantiasa, serta setangkai bunga kecil untuknya, seseorang yang paling ia sayangi melebihi apa yang ia miliki.
cianjur 2010
Ditulis dalam Karya
Tag: puisi
•April 6, 2010 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Aku tidak dapat membayangkan rupamu saat sorot senter terangi aktifitasku malam ini, menulis sebagian rindu, karena kita belum pernah bertemu, hanya kata-kata lucu tertata di atas meja, membuatku nyaris mengeluarkan air mata, melihatmu yang tawa. Wajahmu terkadang sangat usil, disana ada senyum paling misterius yang pernah kulihat, kucoba menerjemahkannya kedalam secangkir cokelat hangat, dan barulah dapat kugambarkan bagaimana rupamu malam ini: Pulas. Polos. kadang ada dua bayangan dalam angan, kau yang sedang tersenyum dan kau yang sedang melamun, mengenang kenangan dalam kemaharahasiaan. Aku tidak berharap itu aku, karena hari ini aku memang masih ada disini, tapi tidak tahu esok pagi.
Ditulis dalam Karya
Tag: puisi
•April 6, 2010 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Teruntuk Sahabatku Moh. Ghufron Cholid
Barangkali doa
yang terlupa
Lama tak tersemat di kalbu biru.
Barangkali rindu
yang mati suri
dan sajakmu telah membuatnya hidup kembali.
cianjur 2010
Ditulis dalam Karya
Tag: puisi